Buddha & Weda

Sebagai seorang pangeran, Sidharta Gautama tentulah ia sudah mempelajari berbagai Weda, berbagai sastra di dalam Weda, juga ilmu pemerintahan, seni, tata bahasa, dan yang lainnya. Beliau lahir dan tumbuh dalam peradaban Weda, peradaban Dharma. Tapi beliau bukan seseorang yang berhenti pada tataran pemahaman kognitif belaka. Itu kenapa beliau meminta izin kepada ayahnya Raja Sudhodana, untuk pergi bertapa merealisasi Dharma. Namun oleh Raja tidak diberi izin karena Sidharta adalah putra mahkota, putra tunggal, pewaris takhta kerajaan Kapilawastu. Raja takut putranya itu kebablasan menjadi pertapa. Sidharta diberi berbagai kemewahan supaya lupa dengan pencariannya. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, semangat pencariannya semakin kuat dan ia semakin bosan dan muak dengan kemewahan istana.

Para akademisi Hindu akan mengatakan bahwa ajaran sang Buddha tidak sesuai Weda. Ya begitulah para akademisi.

Suatu hari seorang Guru bernama Bhagawan Sri Satya Sai Baba ditanya oleh murid beliau; “apakah Buddha itu atheist, apakah ajaran Buddha itu bertentangan dengan Weda?” Sai Baba menjawab; “justru Buddha adalah yang sangat memahami Weda dan Dharma”

Seorang Guru dari garis silsilah sang Buddha bernama Thich Nath Han dalam bukunya yang diterjemahkan dengan judul Jalur Tua Awan Putih, sebuah buku tentang kisah hidup sang Buddha, beliau mengatakan Buddha memberi interpretasi yang baru pada Weda. Dan tentu pada masa itu Buddha ditentang oleh kaum Brahmana. Banyak brahmana yang datang ingin berdebat atau bahkan mencelakai sang Buddha. Tapi akhirnya banyak dari mereka yang menjadi murid sang Buddha.

Ya, sang Buddha memang mengatakan bahwa tidak semua yang ada pada Weda membawa ke pembebasan. Weda berisi banyak hal, berbagai doa meminta hujan dan sapi, dan lain sebagainya. Buddha juga mengakui sepuluh Rsi zaman dulu yang benar-benar memahami Weda dan Dharma. Murid-murid terbaik sang Buddha banyak yang berasal dari golongan brahmana yang terpelajar mengenai Weda seperti Sariputra, Mahakasyapa, Mogalana dan yang lainnya.

Buddha telah menunjukkan mereka cara merealisasi langsung Dharma. Realisasi langsung ini yang disebut Pratyaksa Pramana, inilah yang membebaskan. Bukan sekedar informasi dan ingatan ingatan di dalam otak (Agama pramana) atau kesimpulan-kesimpulan dari penalaran logika (Anumana pramana). Begitulah sang Buddha, ia telah menbimbing dan memberi metode agar orang-orang dapat merealisasi langsung Dharma.

Perdebatan selalu ada. Ya begitulah manusia, terutama para akademisi. Jangankan antara orang Siwa, Buddha, dan Waisnawa (wisnu), bahkan di dalam ajaran Buddha pun selalu ada perdebatan. Dan semoga semua perdebatan itu menjadi salah satu anak tangga untuk merealisasi Dharma, bukan menjadi gerakan politik identitas.

Dan indahnya, di Bali, orang-orang dapat mempelajari tradisi Dharma mana pun tanpa banyak hambatan dan pertentangan. Bersyukurlah orang-orang Bali.

Dari status facebook @gedeagustapa 16 Januari 2020

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 111

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *