Buddha, Tuhan & Dharma
Sang Buddha tidak mengajarkan untuk percaya pada tuhan. Sang Buddha juga tidak mengajarkan untuk tidak percaya pada tuhan. Beliau tidak melarang orang untuk percaya tuhan, beliau juga tidak melarang orang untuk tidak percaya tuhan.
Yang diajarkan oleh sang Buddha adalah untuk menginvestigasi, mencermati, meneliti, melihat langsung ke dalam fenomena, baik fenomena fisik/materi mau pun fenomena pikiran (perasaan, emosi, memori, persepsi, kesadaran). Ini lah yang beliau ajarkan untuk memahami Dharma, melihat Dharma, merealisasi Dharma.
Yang diajarkan sang Buddha hanyalah Dharma, cara untuk melihat Dharma, untuk merealisasi Dharma. Tidak ada yang lain yang beliau ajarkan.
Dengan melihat Dharma, merealisasi Dharma, maka seseorang terbebas dari kelahiran kembali yang berulang-ulang di alam-alam penderitaan, alam samsara. Dan siapa pun yang melihat Dharma, merealisasi Dharma, tidak tertipu lagi oleh kekuatan ilusi/maya, adalah Buddha. Buddha artinya yang terjaga, yang tidak lagi tertipu oleh maya, oleh ilusi.
Itu kenapa meditasi menjadi hal yang penting, utama, mendasar, dari pendekatan yang diajarkan oleh sang Buddha. Melatih perhatian untuk menginvestigasi fenomena dan untuk berdiam di dalam samadhi, adalah yang diajarkan oleh Buddha. Bahasa sansekerta dari meditasi adalah bhavana. Bhavana artinya membiasakan, melatih, menumbuh kembangkan. Apa yang dibiasakan? Membiasakan untuk berdiam di dalam samadhi, di kedamaian tertinggi, di keadaan yang melampaui segala fenomena, di kesejatian Dharma. Samadhi ini lah yoga yang sebenarnya. Dan Samadhi lah yang dituju, tujuan akhir, dari penjelasan Maharshi Patanjali dalam Patanjali Yoga Sutra. Tidak ada pembebasan tanpa samadhi, tidak ada moksha tanpa samadhi.
Itu lah yang diajarkan sang Buddha. Dharma dan hanya Dharma.
Dharma Saranam Gachami.
Buddham Saranam Gachami.
Dari status facebook @gedeagustapa 22 desember 2019