Dua Harta Karun
Ajaran Buddha jika dirangkum menjadi 2 hal maka itu adalah : KEBIJAKSANAAN & KASIH SAYANG. Tidak ada yang lain. Inti dari yang paling inti.
Tapi kedua hal tersebut tidak dapat dikatakan sebagai ajaran. Sebab keduanya adalah kesejatian dari keberadaan kita. Para Buddha, para Arahat, para Boddhisatwa, para Guru yang tercerahkan hanya menunjukkan metode dan cara untuk mengungkap harta karun yang berharga itu, harta karun yang sudah ada pada kita, yang menunggu untuk ditemukan, menunggu untuk diungkapkan.
Kebijaksanaan yang dimaksud bukanlah pengetahuan berupa informasi yang kita baca dan dengar tapi lebih dalam dari sekedar itu. Ada yang disebut “Primordial Wisdom”, Kebijaksanaan Kuno. Kebijaksanaan yang sudah ada dalam diri manusia sejak masa yang tak berawal.
Dan dari kebijaksanaan itu memancarlah welas asih yang otentik, yang tidak dibuat-buat, yang sejati. Welas asih yang seperti cahaya ketika api menyala. Cahaya langsung ada ketika api menyala. Tak terpisahkan, tak akan pernah bisa dipisahkan. Nyala apinya adalah kebijaksanaannya, realisasi sunyata.
Siapa pun yang dengan tekun terus menerus berusaha mengungkap harta karun kebijaksanaan dan kasih sayang di dalam dirinya, ia adalah pengikut ajaran Buddha. KTPnya bisa saja islam, kristen, hindu, penganut kepercayaan, atau bahkan kolom agamanya kosong. Jika seseorang itu tidak berusaha menemukan kedua hal itu, ia bukanlah pengikut sang Buddha walau pun KTPnya agama Buddha. Dan siapa pun yang telah menemukan harta karun itu, ia telah menjadi Buddha, yang Terjaga, yang Tercerahkan.
Banyak Guru mengatakan; jangan berhenti berlatih meditasi sebelum kasih sayang yang otentik itu terbit dan bersinar di dalam dirimu tanpa pernah padam.
Buddham Saranam Gachami
Dari status facebook @gedeagustapa 23 oktober 2019