Cangkul Si Buruh Miskin

Jauh di masa lalu, di kalpa yang berbeda (1 kalpa = triliunan milyar tahun), Sang Buddha pernah lahir sebagai seorang buruh tani yang sangat miskin. Saking miskinnya satu-satunya hartanya dia adalah sebuah cangkul. Cangkulnya itu adalah modalnya untuk berkerja sebagai buruh. Kehidupannya sangat keras, miskin, dan harus berkerja keras untuk mendapatkan makanan. Sumber penghidupannya adalah berkerja mencangkul. Pekerjaan yang berat dan melelahkan.

Bosan, tidak kuat dengan kemiskinan dan kerasnya hidup menjadi buruh cangkul akhirnya dia memutuskan untuk menjadi pertapa. Dia kemudian membuang cangkul kesayangannya itu dan pergi ke hutan untuk bertapa.

Tapi ketika ia duduk bermeditasi terbayang selalu cangkul kesayangannya itu. Terbayang dia akan harta satu-satunya itu. Begitu kuatnya kemelekatannya pada cangkulnya itu ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri meditasinya dan kembali mencari-cari cangkul kesayangannya itu. Dia mencari di tempat ia membuangnya. Setelah ketemu ia kemudian kembali menjadi buruh tukang cangkul.

Setelah sekian lama kembali menjadi buruh cangkul ia merasa lelah dan bosan menjadi buruh cangkul. Pekerjaan yang berat, melelahkan, dengan hasil yang sedikit. Lebih baik menjadi pertapa saja. Dia kemudian mengubur cangkulnya kemudian pergi ke hutan. Singkat cerita dia kembali bertapa. duduk bermeditasi.

Dan…. Setelah duduk bermeditasi kembali si cangkul datang menggodanya. Terbayang ia akan harta berharganya itu. Kasihan juga dibuang cangkulnya yang sudah berjasa baginya digunakan untuk mencari makan. Kembali ia gelisah. Dan lagi dia memutuskan untuk mengambil cangkulnya itu. Di gali lagi tempat dia mengubur cangkulnya itu. Dan kembali ia menjadi buruh cangkul.

Selang beberapa waktu menjadi buruh cangkul ia merasa lelah, bosan dan putus asa. Lebih baik menjadi pertapa saja. Sekarang pikirannya lebih mantap karena sudah dua kali gagal dan kembali menjadi buruh cangkul. Menjga supaya dia tidak kembali lagi pada cangkulnya, kali ini dia mernghancurkan cangkulnya. Gagangnya dipatah-patahkannya, cangkulnya dirusaknya, lalu dibuang entah kemana. Kali ini ia bertekad untuk bertapa dan tidak kembali lagi menjadi buruh cangkul. Dia pun pergi ke hutan menjadi pertapa dan bermeditasi.

Begitulah anehnya pikiran. Ia bisa melekat pada hal-hal yg kadang orang lain anggap remeh tapi bagi kita menjadi spesial.

*Cerita ini saya dengar ketika dharma wacana pada retreat meditasi Vipasana yang dibimbing oleh Shayadaw Nandasidhi sekitar Desember 2010

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *