Belajar Dharma Tapi Koq Sakit Kronis?

Jangan gentar. Jangan hanya karena kena sakit, jangan hanya karena rejeki tidak lancar, lalu mengeluh “kenapa nasib saya terus menerus jelek, padahal sudah ikut dharma, sudah berbuat baik, sudah berguru, dsb.”
Penderitaan kita, penderitaan anda dan saya selagi bisa membaca status ini tidak lah ada apa-apanya jika dibandingkan penderitaan yang dihadapi Shidarta Gautama. Kehidupan yang keras setelah meninggalkan istana demi mencapai pencerahan demi menembus makna terdalam dari Dharma. Berkali-kali beliau hampir mati. Dibuly, dilempari batu, bahkan dikencingi oleh anak-anak desa di pinggir hutan karena dikira orang gila. Bahkan setelah menjadi Buddha kehidupan beliau masih lah keras jika dibandingkan dengan kehidupan kita sekarang.
Berjalan tanpa alas kaki, tidur di hutan di bawah pohon, makanan pemberian kadang nasi sisa, kadang makanan tidak layak. Pada masa paceklik beliau bahkan makan makanan kuda. Tapi bathin beliau tidak goyah. Tidak ada beliau mengeluh dan menyesal meninggalkan kehidupan mewah istana.
Sakit kronis adalah karena buah karma masa lampau. Mengenal ajaran Dharma, juga karena buah karma masa lampau.
Salah satu murid sang Buddha seorang bhiksu bernama Tissa mengalami sakit berat. Tubuhnya penuh bisul borokdan membusuk. Nanah dan darah lengket di jubah bhiksunya. Ini dikarenakan karma buruknya dari masa lampau berbuah. Jauh di masa lampau, di kalpa yang berbeda, ia adalah seorang pemburu burung. Burung-burung itu di tangkap kemudian dijual. Burung yang tidak laku pada hari itu maka kaki dan sayapnya dipatahkan agar burung itu tidak bisa lari sekaligus masih tetap hidup. Ini bertujuan untuk menjaga agar daging burung masih segar. Karena pada masa itu tidak ada kulkas atau bahkan kandang pun dia tidak punya. Karena karma buruk itu berbuah maka tubuhnya penuh bisul dan membusuk. Tetapi dia pernah melakukan kebaikan. Di masa Buddha sebelumnya di kalpa yang berbeda ia pernah memberi makan seorang pertapa yang telah mencapai kesucian. Karena itu lah ia memperoleh ajaran Dharma dan menjadi murid Buddha hingga akhirnya ia mencapai tingkatan kesucian Arahat dan tidak terlahirkan kembali.
Karena buah karma buruk kita menerima berbagai kesialan dan penderitaan. Tapi jangan gentar, jangan bergeser sedikit pun dari sang Jalan. Karena karma baik kita menikmati berbagai kenyamanan dan kemewahan. Tapi jangan lalai sebab semua tidak kekal bahkan dalam satu jentikan jari semua bisa ambruk. Tetaplah pada sang Jalan sampai pembebasan tercapai. ![]()
![]()
![]()