Tabungan Karma Baik untuk Membantu Semua Makhluk

Kita tentu pernah mengalami melihat orang lain atau makhluk lain mengalami kesulitan, bahkan mungkin mereka berada dalam kesulitan dan penderitaan yang mendalam. Ingin rasanya membantu tapi apa daya tak ada kuasa. Tidak ada kemampuan untuk membantu. Tidak ada uang, tidak ada waktu untuk dialokasikan, tidak ada sumber daya yang bisa digunakan untuk membantu.

Setelah direnung-renungkan, keadaan yang seperti itu sungguh sulit dan sungguh kasihan. Si penderita berbuah karma buruknya, sementara itu yang ingin membantu tidak cukup karma baiknya sehingga dua-duanya tidak berdaya.

Melihat anjing terkapar, kena sakit, luntang-lantung di jalanan, tidak ada yang membantu. Bukan tak ingin membantu tapi mungkin mereka-mereka yang lewat pun tak berdaya. Tak ada uang yang cukup, tak ada waktu yang cukup, tidak ada ruang yang cukup untuk menempatkan si anjing. Begitulah misalnya.

Mungkin inilah sebabnya Sang Boddhisattwa terus-menerus di banyak kehidupan yang tak berhingga jumlahnya, di masa yang tak berhingga lamanya, berkalpa-kalpa, terus menerus ia mengumpulkan kebajikan. Terus menerus ia belajar berbagai metode, mengumpulkan pengetahuan, menyempurnakan sepuluh paramita, demi menjadi Buddha yang sempurna Annutara Samyak Sambuddha demi membantu sebanyak mungkin makhluk terbebas dari belenggu derita samsara.

Dikatakan; untuk mencapai keBuddhaan yang sempurna seseorang mesti menempuh jalan panjang mengumpulkan tabungan kebajikan dan tabungan kebijaksanaan.

Mengapa Ia melakukannya? Mengapa ia menempuh jalan panjang itu? Welas asih lah motivasi satu-satunya. Terlahir di banyak kelahiran, mengalami perpisahan dengan banyak orang yang dicintainya, ia bertekad membebaskan mereka semua dari derita samsara yang tak berujung.

Kita tidak bisa memberikan apa yang tidak kita miliki. Pertama-tama kita harus mengumpulkannya terlebih dahulu, lalu membagikannya. Harta benda begitu juga dengan pengatahuan dan kebijaksanaan. Dicari dulu kemudian dibagikan. Memang begitulah sandiwara semesta ini.

Dari sekian banyaknya karma baik dan kebajikan yang ia kumpulkan di masa lalu memungkinkan ia terlahir sebagai pangeran yang cemerlang, yang tidak tergoda oleh kekuasaan dan kesenangan duniawi walau pun dikatakan jika ia menjadi raja maka ia akan menjadi cakrawatin, raja diraja. Sudah puas ia menikmati berbagai kesenangan sebagai pangeran. Gelisah hatinya ingin mencari jawaban dari semua kebingungan. Lalu ia pergi meninggalkan istana, menjadi pertapa, mencapai keBuddhaan.

Para raja-raja di anak benua India sangat menghormatinya. Sebab Ia seorang pewaris takhta begitu saja meninggalkan istananya. Mencapai kebijaksanaan, memiliki berbagai kesaktian, piawai dalam mengajarkan Dharma, ajarannya menyebar ke segenap penjuru menjadi terang dunia. Dari mana kah datangnya kekuatan yang seperti itu? Dari tabungan kebajikan yang Ia kumpulkan di banyak kehidupan kemudian ia mendedikasikannya untuk kebahagian dan pembebasan semua makhluk. Dia lah Buddha yang sempurna Anutara Samyak Sambuddha.

Gede Agustapa
Gede Agustapa
Articles: 15

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *